BANCAKAN JAJAN PASAR - SORBAN

BANCAKAN JAJAN PASAR

BANCAKAN JAJAN PASAR

#Sopo_Gelem_tak_Dongengi

Bancakan adalah tradisi di masyarakat Jawa yang masa lalu sering kita jumpai, atau bahkan kita lakukan. Kegiatan bancakan merupakan jenis selamatan dengan segment khusus untuk anak-anak. Biasanya yang dijadikan menu Bancakan adalah makanan jenis jajan pasar atau makanan nasi atau bubur dengan porsi kecil. Maklum karena segmen-nya anak-anak yang porsi makannya sedikit.

Jajan pasar dipilih sebab menjadi kesukaan anak-anak. Jajan pasar ini seperti kelanting, klepon, Gatot dan semacamnya yang dulu banyak dijual di pasar tradisional. Namun perkembangan jaman jajanan tradisional itu kemudian sering diganti dengan makanan dalam kemasan alias chiki-chikian.

Bancakan umumnya dilakukan pada hari weton kelahiran anak yang dibancaki. Waktu weton itu dipakai karena adanya keyakinan bila pada hari weton kelahiran anak biasa terjadi balak atau naas dalam kehidupannya. Maka untuk menghilangkan naas itulah maka dimintakan doa dalam bentuk Bancakan.

Bagaimana awal mula Bancakan itu terjadi ?

Tersebutlah seorang lelaki yang menikah dengan bidadari. Namanya Joko Tarup yang dengan tipu muslihatnya berhasil menyunting Dewi Nawangwulan. Dalam perkawinan mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Namun pada akhirnya Dewi Nawangwulan berhasil mendapatkan kembali selendang yang disembunyikan Joko Tarup dalam lumbung padi. Setelah itu Dewi Nawangwulan menggunakan selendang untuk balik ke habitatnya sebagai bidadari di Kayangan. Maka tinggallah Joko Tarup sendiri membesarkan buah hati mereka.

Sebelum Dewi Nawangwulan pergi, Joko Tarup sempat merajuk pada istrinya, “Bagaimana nanti jika anak kita bertanya dan ingin menemui ibunya, Dinda ?’, ujarnya seraya berharap istrinya mengurungkan niat.

“Nanti kalau anak kita rindu padaku ajaklah keluar halaman pada saat bulan purnama. Aku akan datang menghiburnya, Kakang”, jelas Dewi Nawangwulan.

Baca Juga  TANBIH atau Wasiat Dari Mbah Sholeh

Pada malam bulan purnama, Joko Tarup berdiri di halaman menatap bulan yang bulat terang bersinar. Seperti yang dijanjikan Dewi Nawangwulan dia berharap dapat bertemu lagi, meski hanya semalam saja. Namun yang dinanti tidak kunjung muncul dihadapannya.

“Yayi Dewi, dimana kau kini ?”, kata Joko Tarup yang tidak tahu pada siapa kata itu ditujukan. Tidak ada orang dihadapan yang bisa diajak berbincang.

Tiba-tiba, terdengar suara. Suara yang dikenal Joko Tarup sebagai nada suara milik istrinya.

“Aku disini, Kakang. Aku menjelma menjadi bulan purnama yang sejak tadi Kakang pandang”, ucap Dewi Nawangwulan.

“Duh Yayi, aku kira Dinda akan muncul kembali untuk menjenguk anak kita yang terus menanyakan dimana ibunya’, terang Joko Tarup.

“Maaf, Kakang. Aku tidak bisa datang karena kita berbeda alam”, balas Dewi Nawangwulan.

“Kalau genduk rindu padaku bawalah dia ke halaman serta. Aku akan menghiburnya, bersenandung untuknya”, jelasnya.

Pupus sudah harapan Joko Tarup untuk bisa bersanding kembali dengan istrinya. Kata rindu yang dijadikan alasan tidak diindahkan. Lalu kata apa lagi yang akan disodorkannya ?.

“Terus bagaimana bila genduk sakit, sedangkan bulan purnama belum masanya ?”, sergah Joko Tarup.

“Agar genduk tidak sakit maka lakukan Bancakan jajan pasar pada hari wetonnya. Dengan demikian genduk akan terhindar bukan hanya dari sakit tetapi juga terhindar dari mala petaka. Bagikan jajan pasar itu pada anak-anak di sekitar rumah kita”, kata Dewi Nawangwulan menjelaskan.

Pesan Dewi Nawangwulan itu kemudian dijalankan oleh Jojo Tarup. Dengan Bancakan dia berharap anaknya tumbuh besar jauh dari marabahaya. Makanan yang disediakan pun membuat anak-anak yang sedang senang-senangnya mengkonsumsi jajanan menjadi gembira. Maka sejak itu Bancakan dilakukan pada masyarakat di Jawa.

Baca Juga  DI/TII Bunuh Kyai NU karena NU Bela NKRI tidak Bela Negara Islam

Madiun, 12 Juli 2019.

Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SORBAN