Jejak Kiai Istad Djanawi, Sang Penawar di Bumi Tawar - SORBAN

Jejak Kiai Istad Djanawi, Sang Penawar di Bumi Tawar

Jejak Kiai Istad Djanawi, Sang Penawar di Bumi Tawar
Kiai Istad Djanawi_Kertosono

Tidak semua orang yang menjadi Kiai itu berasal dari keturunan seorang Kiai. Tetapi ada juga seseorang yang menyandang status ke-kiaiannya dari proses perjalanan riyadoh dan kealiman ilmunya. Selain kealiman dan kewibawannya, tentu pengakuan dari masyarakat juga menjadi factor penentu. Dan tentu saja itu bisa dimaknai bahwa proses seseorang menjadi Kiai karena adanya interaksi aktif dengan masyarakat. Dan masyarakat melihat kelebihan atau daya linuweh yang dimiliki seseorang itu yang kemudian pantas disebut sebagai seorang Kiai.

Kiai, dimasa dulu, juga kini, selalu menjadi rujukan terhadap berbagai hal dalam kehidupan umat. Karena masyarakat menganggap, Kiai memiliki selain ilmu tentunya, juga kedekatan dengan Tuhan. Sehingga doa-doanya mustajabah. Karenanya selain meminta nasehat, biasanya masyarakat meminta wirid atau doa-doa mustajabah yang mampu menyelesaikan permasalahan umat.

Dan tentu saja juga, penulis tidak mengingkari, apabila terjadi disrupsi terhadap penyebutan Kiai, tanpa ada prasyarat sebagai ahli riyadoh dan kealiman, misalnya pengurus structural di suatu ormas. Ini permasalahan lain. Tulisan ini akan menyuguhkan Kiai yang memiliki prasyarat ahli riyadoh dan alim. Dan contoh Kiai yang memiliki prasyarat ahli riyadoh dan kadar kealimannya yang tidak diragukan lagi itu ialah Kiai Istad Djanawi. Tulisan sederhana ini akan mengungkapkannya.

Asal Muasal Kiai Istad Djanawi

Kiai Istad Djanawi berasal dari Kertosono, tepatnya di Desa Kalianyar. Desa Kalianyar hingga sekarang dikenal dengan nama Desa Mbothe. Nama Mbothe ini mengingatkan pada sebuah tanaman yang bisa digunakan untuk makanan ringan bahkan juga bisa dipergunakan sebagai campuran untuk sayur makanan. Bisa jadi di desa ini dulu banyak tanaman Mbothenya sehingga lebih dikenal dengan nama desa Mbothe.

Kiai Istad Djanawi Ia lahir pada tahun 1875 dari pasangan Djanawi dan Marsiyem. Djanawi sendiri adalah seorang petani yang taat. Pun Marsiyem, adalah ibu rumah tangga yang baik yang mengasuh anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Meskipun bukan berasal dari keluarga Kiai, tetapi Ayah Kiai Istad Djanawi merupakan petani taat, yang perhatian terhadap pendidikan putranya, khususnya pendidikan agama. Karenanya sejak kecil, Istad Djanawi sudah mengenyam pendidikan agama secara kuat. Baik pendidikan dari ayahnya langsung maupun ke Kiai Kiai dikampungnya yang alim.

Sebagaimana diketahui, bahwa desa Mbothe adalah desa yang dekat dengan banyak pesantrennya. Seperti Pesantren Mojosari, Pesantren Mangunsari, Pesantren Sekar Putih, dan Pesantren Kedunglo Bandar Lord an lain lain. Karenanya desa ini memperoleh rembesan barokah dari banyaknya pesantren disekitarnya dengan banyaknya alumni pesantren yang berkiprah berdakwah mengembangkan Islam di desa ini. Sehingga kehidupan beragama dan pendidikan agamanya sangat berakar di tengah masyarakat.

Dan saat Istad Djanawi berpamitan untuk melanjutkan pendidikan agamanya ke Pesantren, ayahnya pun mengizinkannya. Sebab, selain sudah menjadi kultur ditengah masyarakat, juga di pesantrenlah pendidikan alternative yang menjadi pilihan, ketika pendidikan Belanda yang diskriminasi, tak terjangkau oleh masyarakat kecil.

Yang menjadi pilihan Istad Djanawi adalah Pesantren Mangunsari. Pesantren yang terletak di Desa Mangunsari Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk. Pengasuhnya waktu itu adalah Kiai Imam Bahri. Istad Djanawi memperdalam ilmu-ilmu alat, Fiqh, tasawuf, Aqidah Akhlak dan lain lain dalam waktu yang lama.

Baca Juga  BERIKAN APRESIASI IJTIMA ULAMA KE-IV, PKS TERNYATA MENDUKUNG AGENDA KHILAFAH

Namun dahaga Intelektualnya belum terpuaskan. Ia kemudian melanjutnya nyantrinya ke Kiai Kholil Bangkalan-Madura. Seorang Kiai yang menjadi punjernya Kiai waktu itu, sehingga banyak Kiai yang memanggilnya Syaikhona. Di Syaikhona Kholil ini, Istad Djanawi memperdalam ilmu alat dan juga tasawuf serta kitab kitab salaf yang menjadi rujukan dalam ilmu agama.

Meskipun sudah mumpuni ilmu agamanya, namun Istad Djanawi belum merasa puas apabila belum menemukan seorang mursyid yang akan membimbingnya menuju kepada Allah. Atas isyarat yang diterimanya, ia pun kemudian melakukan perjalanan menemui sang Mursyid. Dan di Desa Besuk Curahmalang Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang, Kiai Istad Djanawi menemukan mursyidnya. Beliau adalah Syeikh Umar Bisri, mursyid Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah. Pada Syeikh Umar Bisri ini, selain berbaiat pada thoriqohnya, Kiai Istad Djanawi juga belajar banyak riyadoh riyadoh taqarub ilalloh.

Sebagaimana para salik, dalam perjalanan menuju kepada Allah selalu ada godaan dan rintangan. Tetapi karena ia dibimbing oleh guru Agung yang pernah menempuh lika liku perjalanan menuju kepada Allah, ia dapat diselematkan dari halangan dan rintangan itu. Suatu kali Kiai Istad Djanawi didatangi ular besar sekali. Ular itu menawarkan berbagai kesaktian yang tidak bisa diperoleh oleh manusia biasa. Ular itu menunjukkan berbagai kesaktian yang mengagumkan. Meskipun demikian, dikarenakan bimbingan gurunya, Kiai Istad Djanawi tidak tergoda sedikitpun. Ia tetap bersiteguh dalam jalan menuju kepada Allah.

Usai memperoleh pencerahan dalam dunia spiritualnya, tidak menjadikan Kiai Istad Djanawi menyendiri bertapa menikmati keasyikan dunia spiritualnya. Namun tugas selanjutnya sesungguhnya lebih berat. Ia harus membumikan pesan-pesan langit ke bumi pertiwi.

Kiai Istad Djanawi pun memperoleh petunjuk untuk menemukan suatu tempat yang kelak akan dipergunakan untuk mendakwahkan agama Allah. Ia pun melakukan perjalanan ke Mojokerto dengan sesekali mengunjungi makam-makam aulia sepanjang perjalanan. Karena perjalanan yang panjang dengan perbekalan yang telah habis, ketika sampai di Desa Melaten Kecamatan Mojosari, Kiai Istad Djanawi tidak sadarkan diri. Ia pun kemudian ditolong oleh warga setempat. Setelah kondisinya pulih, ia pun melanjutkan perjalanan.

Sesampai di Desa Graji Kecamatan Dlanggu, Kiai Istad Djanawi singgah untuk beberapa lama. Bahkan ia pun memiliki seorang santri yang selalu melayani kebutuhannya. Namanya Karim. Di Desa ini, Kiai Istad Djanawi tak berhenti henti untuk melakukan mujahadah. Hingga pada suatu kali, ia memperoleh mimpi yang penuh makna. Ia bermimpi didatangi oleh berada di suatu mushola kecil. Di Depan Mushola kecil itu berdiri dua orang perempuan. Sedang dibelakang Mushola, terdapat makam yang diatasnya berdiri seorang laki-laki pendek memakai blangkon. Lelaki itu kemudian berbicara meminta bantuan kepada Kiai Istad Djanawi.

Isyarat dalam mimpi itu membuat Kiai Istad Djanawi penasaran. Bersama dengan santrinya, ia menelusuri jejak jejak mimpinya. Setiap kampung dicari musholanya dan dicocokkan dengan mimpinya. Tetapi tak satu pun Mushola seperti dalam mimpinya. Hingga ia sampai di sebuah desa Tawar Kecamatan Gondang, ia menemukan sebuah Mushola yang mirip dengan mimpinya. Ia pun kemudian meminta izin untuk singgah di Mushola ini. Dari keterangan warga setempat, diketahui bahwa makam dibelakang Mushola adalah makamnya Kiai Burhani. Kiai Burhani memiliki seorang istri yang bernama Nyai Watiah. Dan Nyai Watiah itu memiliki tujuh anak. Dan salah satu anaknya itu kebetulan seorang janda tanpa anak.

Baca Juga  SYUHADA YANG TERLUPA

Kiai Burhani adalah pendakwah di desa tersebut. Hanya saja, dakwah yang dikembangkannya kurang berhasil dalam membina masyarakat. Masyarakat masih banyak yang awam dalam mengamalkan syariat syariat Islam. Namun belum banyak perubahan yang dilakukannya, Allah sudah menakdirkan ia kembali ke haribaan-Nya.

Kiai Istad Djanawi kemudian berusaha menghidupkan kegiatan Mushola ini. Dengan sholat jamaah dan Ngaji. Bertepatan pula pada saat itu, sudah masuk pada bulan ramadhan. Mushola kecil itu pun semarak.

Perubahan yang ada pada kehidupan religius di Mushola kecil itu setelah kedatangan Kiai Istad Djanawi sontak membuat Janda dari Kiai Burhani tertarik untuk meminangnya menjadi menantunya. Kiai Istad Djanawi dijodohkan dengan anaknya yang berstatus janda tanpa anak yang bernama Fathimah Jayun Yaumi. Gayung pun bersambut, Kiai Istad Djanawi yang sudah berumur 40 tahun pun menerima dengan lapang dada. Pernikahannya pun diberlangsungkan. Dari pernikahannya itu lahir dua belas anak yang bernama Haidlor Ali, Sulaiman Afandi, Khoirul Anam, Riyadlul Badiah, Muhajir, Zaenah, Muhayanah, Musyarofah, Baidlowi, Ahmad Syamsuddin, Isroil, dan Nur Roihanah.

#

Dalam kehidupan sehari-hari Kiai Istad Djanawi melakukan aktivitas seperti kebanyakan warga Tawar. Bahkan yang tidak umum, Kiai Istad Djanawi ba’da melakukan aktivitas ritual ibadah pagi, dari qiyamul lail, sholat subuh, dan pembacaan aurot thoriqoh yang berlangsung hingga waktu dhuha, jalan jalan ke pasar untuk sarapan dan berjualan. Kiai Istad Djanawi bahkan terkenal sebagai seorang makelar. Ia menjual padi, palawijo, bahkan juga rumah. Dari aktivitas jual beli dengan masyarakat itulah Kiai Istad Djanawi pelan pelan mengajak masyarakat untuk berkehidupan yang sesuai dengan agama tanpa menyinggung perasaan masyarakat.

Lambat laun, masyarakat pun banyak yang berguru kepada Kiai Istad Djanawi. Berbagai persoalan ditanyakan kepada Kiai Istad Djanawi. Dan Kiai Istad Djanawi melayani dengan sepenuh hati. Beliau sabar menghadapi masyarakat yang berbeda beda karakternya.

Dalam soal Aqidah, seperti karakter dakwah awal di daerah abangan, biasanya akan berhadapan dengan keyakinan suatu tempat yang diyakini akan kesakralannya. Dahulu di Desa Tawar ada puthuk, semacam tempat yang penuh pohon dengan gundukan tanah, yang disakralkan. Tempat ini juga angker. Saking angkernya, banyak orang kemudian menghubungkan semua kejadian dengan tempat ini. Bahwa sebab marabahaya juga berasal dari puthuk ini. Agar kehidupan berjalan normal, maka mereka akan memberikan sesajen. Dan disinilah masyarakat tanpa sadar tergelincir dalam kesesatan aqidah.

Maka, Kiai Istad Djanawi membongkar tempat ini. Santri santrinya dikerahkan. Sayangnya, ada satu kejadian yang membuat orang orang membenarkan keangkeran puthuk ini. Salah satu murid terkubur terkena longsoran tanah puthuk ini. Namun beruntung, dengan kekeramatan Kiai Istad Djanawi, sang murid bisa ditemukan tubuhnya yang terkubur di tanah, dalam keadaan masih hidup.

#

Pada tahun 1947, Kiai Istad Djanawi mulai membuka baiat Thariqah Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah. Tentu saja atas izin dari guru yang pernah mengijazahinya yakni Syekh Umar Bisri Curah Malang. Banyak masyarakat yang turut berbaiat kepadanya. Tiap hari senin malam dan kamis malam diadakan khususiyah untuk murid murid thoriqoh. Karena pelaksanaan khususiyah hingga larut malam, maka para murid yang rumahnya jauh, bermalam hingga pagi hari. Dan dipagi hari, Kiai Istad Djanawi memberikan hidangan sarapan secara gratis.

Baca Juga  SUSAHNYA MENGHANCURKAN ISLAM DI NUSANTARA

Lambat laun, murid murid thoriqohnya pun semakin banyak. Tidak hanya di wilayah Mojokerto saja bahkan sampai diluar Mojokerto. Thoriqoh ini hingga saat ini masih dilanjutkan oleh putranya yakni KH. Syamsudin sepeninggal Kiai Istad Djanawi.

#

Pada tahun 1947 Kiai Istad Djanawi mendirikan Madrasah Ibtidaiyah di Desa Tawar. Banyak sambutan atas berdirinya Madrasah Ibtidaiyah ini. Orang tua banyak yang mendaftarkan anak-anaknya ke Madrasah Ibtidaiyah ini. Sehingga pembelajaran di gedung yang dididirikan tidak memuat jumlah siswanya. Pembelajaran dilakukan sampai di serambi Masjid dan di rumah Kiai Istad Djanawi sendiri.

Pada tahun 1953, Kiai Istad Djanawi mendirikan bangunan sekolah dengan biaya sendiri. Sebab tempat yang digunakan untuk pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah sudah tidak memadai lagi. Kiai Istad Djanawi mendirikan tiga bangunan lagi. Meskipun semi permanen, tetapi sudah dikatakan layak pada masanya.
Di Madrasah Ibtidaiyah ini, kurikulum yang digunakan kurikulum klasik berkhas pesantren. Yakni berbasis kitab kuning. Kiai Istad Djanawi mengajarkan Kitab Talim Mutaalim dalam bentuk nadzam nadzam yang dihafal oleh santri santrinya. Juga mengajarkan kitab Safinatun Najah, kitab fiqh dasar yang memuat dasar dasar hukum Islam sehari hari. Pada tingkat lanjut, Kiai Istad Djanawi juga mengajarkan Tafsir Jalalain.

Selanjutnya Madrasah Ibtidaiyah ini dikembangkan oleh putra putrinya, hingga berkembang seperti sekarang ini. Di Desa Tawar telah berdiri MI, MTS, hingga MA dan Pondok pesantren tentunya.

Tentang Pondok Pesantren, sebenarnya sejak era Kiai Istad Djanawi, sudah ada rencana membangun pesantren. Hanya saja, belum terlaksana proses pendiriannya, Kiai Istad Djanawi telah berpulang ke rahmatullah. Di tangan putra putranyalah dikemudian pesantren itu berdiri besar, hingga sekarang ini.

Tepat diusianya yang ke 80, yakni pada tanggal 5 November 1959, Kiai Istad Djanawi menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang dari sakit paru parunya. Isak tangis dari putra putrinya mengiringi jenazahnya. Pun kerabat serta santri santrinya.

Berita kematiannya menyebar luas. Masyarakat merasakan duka yang mendalam atas wafatnya seorang ulama yang mengayomi. Berduyun duyun pentakziyah memenuhi rumah Kiai Istad Djanawi.

Pukul 10.00 WIB, jenazah diberangkatkan oleh KH. Kholil dari Simping Dlanggu. Diiringi pula oleh para Kiai yang Masyhur di Mojokerto seperti KH. Ismail Ibrahim (Pengasuh PP. Kedungmaling Sooko), KH. Ahyat Chalimi (Pengasuh PP. Sabilul Muttaqin), dan KH. Yahdi Matlab (Pengasuh PP. Mojogeneng) dan lain lain.

Penulis :
Isno Woeng Sayun
Ketua LTN NU Kab. Mojokerto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SORBAN