Kenapa Walisongo Tidak Mensyariatkan Cadar Dan Jubah Di Bumi Nusantara - SORBAN

Kenapa Walisongo Tidak Mensyariatkan Cadar Dan Jubah Di Bumi Nusantara

Kenapa Walisongo Tidak Mensyariatkan Cadar Dan Jubah Di Bumi Nusantara

SORBAN SANTRIKisahnya begini, ketika itu, Sunan Ampel sangat memprihatinkan keadaan adat istiadat serta kebudayaan masyarakat Jawa yang nilai-nilainya jauh dari ajaran Islam. Sunan Ampel kemudian menghubungi sahabat beliau di Makkah, yaitu Syaikh Abdul Qayyim supaya mengirim seseorang ke tanah Jawa yang ahli di bidang kebudayaan serta menata adat istiadat agar dari yang kurang bersifat Islami menjadi tidak jauh dari tuntutan agama Islam.

Permintaan Sunan Ampel ini kemudian dituruti oleh Syaikh Abdul Qayyim. Oleh beliau dikirimlah putra beliau sendiri, yaitu Syaikh Khazin yang memang ahli di bidang tersebut. Semenjak itulah berangkat Syaikh Khazin ke tanah Jawa.

Sesampainya beliau di Jawa, beliau kemudian mendampingi Sunan Kalijaga, karena Sunan Kalijaga adalah seorang tokoh muballigh yang berasal dari keluarga terpandang dalam struktur sosial masyarakat Jawa. Beliau adalah putra dari Adipati Tumenggung (setara dengan bupati sekarang) di Tuban. Harapan dari Syaikh Khazin al-Makki, masyakarat Jawa akan lebih mudah menerima dakwah dengan pola pendekatan adat istiadat serta budaya Jawa apabila yang menyampaikan dakwah tersebut adalah seorang putra dari tokoh terpandang di masyarakat Jawa itu sendiri.

Pertimbangan ini diyakini oleh Syaikh Khazin al-Makki tepat, karena sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan oleh kehidupan yang berbasis serta mengelola tradisi, kebudayaan, serta adat istiadat Jawa, tentu Sunan Kalijaga lebih mampu menjiwai dalam khayal (cipta), dzauq (rasa), dan ‘adah (karsa) dibanding dengan muballigh lain yang tidak berlatar belakang serta adat istiadat Jawa. Sehingga, untuk bermusyawarah hampir dipastikan Sunan Kalijaga tidaklah mengalami kesulitan menangkap apa yang diinginkan oleh Syaikh Khazin al-Makki.

Seiring dengan perkembangan waktu, Sunan Kalijaga merasakan bahwa Syaikh Khazin al-Makki ini memang benar-benar orang yang mampu serta mengerti dan menguasai ilmu dakwah yang cocok untuk diterapkan dalam ruang lingkup masyarakat Jawa. Pelurusan pelurusan agar tidak jauh dari ajaran Islam dirasakan oleh Sunan Kalijaga mudah dipraktekkan dalam dakwah dan aplikasinya di ruang lingkup masyarakat. Oleh karenanya, Sunan Kalijaga kemudian memberikan julukan pada Syaikh Khazin al-Makki dengan lawan “Bagus Maulana”. Maksudnya adalah seorang pengelana yang ahli memperhalus serta memperbaiki budaya serta adat istiadat Jawa.

Baca Juga  BIJI DURIAN JUMADIL KUBRO

Figur Bagus Maulana pada saat sekarang ini kurang banyak dikenal orang. Akan tetapi, dahulu adalah sosok figur yang dikenal oleh para ulama di zamannya sebagai tokoh muballigh yang senantiasa mendampingi Sunan Kalijaga dalam hal olah pelurusan seni budaya serta tradisi masyarakat agar tidak jauh dari ajaran Islam.

Sebagai seorang waliyullah, Bagus Maulana mempunyai banyak karamah. Di antara karamah beliau yang sempat masyhur waktu itu ialah:
1. Mempunyai tongkat yang jika ditancapkan di tanah gersang maka dari tanah tersebut akan dapat memancar air.
2. Mampu mengubah air asin menjadi air tawar.
3. Merubah pohon yang kering langsung menjadi basah (hidup) subur dan berbuah.

Syaikh Khazin mempunyai nama Khazin bin ‘Abdul Qayyim bin Yasir bin Nu’man bin Ma’mun bin Yasin bin Malik al-Makki asy-Syafi’i. Disebut al-Makki asy-Syafi’i karena beliau, ayah dan kakek-kakeknya semua berasal dari Makkah serta bermadzhabkan Syafi’i dalam fiqh ‘ubudiyahnya. Lahir di kota Makkah sekitar tahun 842 H/ 1439 M.

Syaikh Khazin al-Makki wafat kurang lebih satu tahun setelah kesultanan Demak pindah ke Pajang atau sekitar tahun 957 H/ 1550 M dalam usia 111 tahun. Jasad beliau dimakamkan di area komplek makam Kadilangu Demak.
(abi sorban)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SORBAN