Penusukan Pemuka Agama dan Pentingnya Posisi Banser - SORBAN

Penusukan Pemuka Agama dan Pentingnya Posisi Banser

Penusukan Pemuka Agama dan Pentingnya Posisi Banser
SORBAN SANTRI- Kejadian penusukan terhadap Ustadz Ali Jabir mengingatkan kita pada rentannya penceramah (di atas panggung) atas serangan bersenjata. Dulu, ketika sedang berceramah, KH. Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, pernah didatangi seseorang yang membabat beliau dengan linggis. Tentu saja beliau langsung ambruk dan kemudian dirawat di rumah sakit. Namun, beliau memaafkan orang tersebut yang, lagi-lagi, sakit jiwa.
KH. Maimoen Zubair, ketika berceramah di atas panggung, juga didatangi seseorang yang menusuk beliau. Mbah Moen selamat, tapi salah seorang yang melindunginya terluka, lantas sakit, hingga wafat.
Ketika berkunjung ke Filipina, Syekh Aidh al-Qarni juga pernah diberondong AK-47. Beliau selamat. Di Mesir, Syekh Ali Jum’ah mengalami kejadian yang sama. Dibedil teroris. Beliau dilindungi Allah. Selamat. Di Suriah, Syekh Said Ramadhan al-Buthy gugur dibom tatkala sedang mengajar di masjid.
Resiko berceramah di hadapan massa memang rentan pada aksi kekerasan bersenjata. Yang terjadi bukan saja menimpa orator muslim. Mahatma Gandhi, pejuang antikekerasan, ditembak ekstremis Hindu, Nathuram Godse, 30 Januari 1948. Di AS, pendeta pejuang kesetaraan ras, Martin Luther King Jr, juga dibunuh pengikut ultra-konservatif AS tatkala menghadiri aksi massa, 20 tahun setelah Gandhi gugur.
Pembunuhan yang paling mengerikan, di hadapan massa dialami Rajiv Gandhi, PM India, ketika seseorang mengalungkan bunga berisi bom, 1991, yang membuat nyawanya melayang (film Bollywood berjudul “Madras Cafe” mengisahkannya).
16 tahun berselang, giliran mantan PM Pakistan, Benazir Bhutto, dihabisi dari jarak dekat oleh Bilal, pemuda 15 tahun, yang segera meledakkan dirinya menggunakan bom. Rajiv dibunuh oleh pemberontak Macan Tamil. Sedangkan Benazir dieksekusi utusan Taliban.
Apapun motifnya, juga kondisi kejiwaan penusuk, kita pantas bersimpati pada apa yang menimpa Ustadz Ali Jabir. Semoga tidak ada lagi kejadian sama yang menimpa mubaligh lain.
Dalam tradisi NU, sudah menjadi kewajiban Banser mengawal dan menjaga ulama saat berada di panggung. Beberapa kejadian yang menimpa ulama NU di atas, sebatas pengetahuan saya, pada saat “tidak dikawal resmi” oleh mas-mas Banser.
Almaghfurlah KH. Ma’shum Jauhari, Lirboyo, yang kondang sebagai pendekar pilih tanding juga pernah diserang oleh pemuda pada saat berceramah di Ponorogo. Setelah pidato usai, beliau turun panggung, tiba-tiba beliau menendang seorang pemuda hingga terpelanting, nyemplung dalam got. Ternyata pemuda ini berusaha menusuk beliau menggunakan keris. Sayang tidak mempan. Hanya baju yang terkoyak, sedangkan tusukan keris hanya menyisakan goresan kecil saja.
Karena itu, wajar jika mas-mas Banser ikut serta mengamankan para kiai. Keselamatan kiai menjadi tanggungjawabnya. Jangan heran jika seringkali kita disuguhkan pemandangan, seorang kiai berceramah yang di samping kanan kirinya berdiri tegap mas-mas Banser. (Kuat berdiri, sanggup menahan haus, juga tahan ngempet pipis berjam-jam).
Sebelum maupun sesudah naik panggung-pun, mas-mas Banser ini juga membentuk pagar mengelilingi kiainya. Sungguhpun kadang malah tampak menghalangi masyarakat yang mau cium tangan kepada teladannya. Soal ini, ada anekdot.
Di Probolinggo, seorang Banser senior yang bertubuh tegap gagah mengawal kedatangan Gus Dur dalam pengajian. Dia memegang erat lengan Gus Dur sembari tangannya menghalau siapapun yang mau mencucup tangan Gus Dur.
“Minggir, ayo minggir. Kasih jalan, kasih jalan…Kiai mau lewat! Minggir”. katanya tegas menggelegar.
Hadirin beringsut. Nggak mau berurusan sama Banser galak ini. Sebagian menggerutu.
Setelah Gus Dur duduk di kursi paling depan, siapa yang pertama kali mencium tangan Gus Dur?
Ya si Banser galak ini.
“Minta barokahnya, kiai.” katanya takzim sambil mencium tangan Gus Dur bolak balik.
Cup…cup.. Cerdik juga!
Foto: Satkoryon BANSER Srumbung mengawal Gus Miftah, ketika akan mengisi ceramah dalam pengajian akbar di Dusun Tulungrejo, Desa Tegalrandu, Srumbung, Magelang beberapa bulan lalau sebelum pandemi Covid melanda Neger. (Oleh: Rijal Mumazziq Z)  (MWC NU Srumbung)
Baca Juga  [HOAX] "Sandiwara Dagelan koplax, di perskusi sendiri,di viralkan sendiri,di laporkan sendiri, minta maaf dan memaafkan sendiri"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SORBAN